Kepada siapakah, hati dan tanganku kupersembahkan?
Aku mendengar pertanyaan ini beberapa tahun lalu saat membaca sebuah buku tentang filosopi pendidikan. Pertanyaan yang terus bergema di kepalaku, pertanyaan yang sulit untuk dijawab meski dalam keadaan paling sadar sekalipun. Aku terus mengamati diriku sendiri di tahun-tahun setelah pertanyaan itu muncul, bagaimana ia berganti dari satu emosi ke emosi yang lain, di beberapa titik maju dan puluhan titik mundur, jatuh bangunnya aku sebagai manusia yang terus mencoba menyelesaikan proses pemisahan individuisasi. Setelah melihat ke belakang, aku bersyukur alam telah menjadi bidan yang mendorong kelahiran perjalanan spiritualku yang kedua, menjadi sesosok manusia yang bertemu dengan dirinya sendiri. Meski mungkin, bagiku ini berjalan lebih lambat dan kompleks. Aku mengambil kesimpulan di tempat paling rentan itulah hidup akan menguji berkali-kali, di tempat yang paling mudah merampas kewarasan, menenggelamkan dari segala arah, sulit untuk melihat cahaya pengetahuan di dalam kegelapan. ...