Berjangkar pada diri
Aku pernah mendengar seseorang berkata padaku tentang situasi dimana dia sudah putus asa untuk "curhat" dengan pasangannya dan mulai mempertimbangkan untuk mulai mencari tempat lain atau bersandar pada dirinya sendiri -- karena terlalu sering kecewa. Aku merenungi lama kalimat itu. Kita sering "terlanjur" tumbuh tanpa pernah mengenali diri sendiri. Saat mematut diri di cermin, kita melihat seseorang yang kita tahu, sekaligus terasa asing. Di cermin itulah kita seringkali menilai apakah penampilan ini akan di sukai oranglain? di hormati oranglain? mengundang rasa hormat? aman dari kritik dan segala penilaian lainnya? Mungkin kita terlalu asing untuk merasa nyaman dengan diri sendiri. Terlalu terlatih untuk mendengarkan pendapat oranglain, terlalu otomatis untuk di dikte oleh selain diri kita sendiri. Barangkali, di sepanjang perjalanan hidup, kita terlalu sering mendengar "Kamu sudah besar", "jadilah dewasa" dan banyak sekali hal yang harus kita...