Postingan

Berjangkar pada diri

Gambar
Aku pernah mendengar seseorang berkata padaku tentang situasi dimana dia sudah putus asa untuk "curhat" dengan pasangannya dan mulai mempertimbangkan untuk mulai mencari tempat lain atau bersandar pada dirinya sendiri -- karena terlalu sering kecewa. Aku merenungi lama kalimat itu.  Kita sering "terlanjur" tumbuh tanpa pernah mengenali diri sendiri. Saat mematut diri di cermin, kita melihat seseorang yang kita tahu, sekaligus terasa asing.  Di cermin itulah kita seringkali menilai apakah penampilan ini akan di sukai oranglain? di hormati oranglain? mengundang rasa hormat? aman dari kritik dan segala penilaian lainnya? Mungkin kita terlalu asing untuk merasa nyaman dengan diri sendiri. Terlalu terlatih untuk mendengarkan pendapat oranglain, terlalu otomatis untuk di dikte oleh selain diri kita sendiri. Barangkali, di sepanjang perjalanan hidup, kita terlalu sering mendengar "Kamu sudah besar", "jadilah dewasa" dan banyak sekali hal yang harus kita...

Prinsip Pembelajaran mendalam dari berbagai pemikir pendidikan

 Prinsip Pembelajaran Anak Usia Dini Dalam peran saya mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi guru tertentu, saya mempelajari modul Pembelajaran Mendalam dan Asesmen (Paud) 2.0 dari modul ini sebagai guru saya diharapkan salah satunya memiliki kompetensi untuk memahami perkembangan anak usia dini sebagai dasar pembelajaran serta dapat merancang pembelajaran dan asesmen yang bermakna, kontekstual dan berpihak pada anak. Dalam modul ini, saya diperkenalkan pada tokoh Pendidikan yang memiliki pandangannya tentang prinsip pendidikan sebagai berikut; x 1 . Maria Montessori (1870-1952) Maria Montessori hidup sekitar tahun 1870-1952, merupakan seorang dokter wanita dari Italia. Sebagai seorang psikiater yang membuat ia banyak terlibat dengan anak-anak berkebutuhan khusus membuatnya berkecimpung dalam permasalahan pendidikan anak yang kemudian berkembang pada metode pembelajaran dengan anak normal. Metode Montessori berdasarkan pada prinsip-prinsip pembelajaran anak yang secara mendas...

Kepada siapakah, hati dan tanganku kupersembahkan?

Gambar
Aku mendengar pertanyaan ini beberapa tahun lalu saat membaca sebuah buku tentang filosopi pendidikan. Pertanyaan yang terus bergema di kepalaku, pertanyaan yang sulit untuk dijawab meski dalam keadaan paling sadar sekalipun. Aku terus mengamati diriku sendiri di tahun-tahun setelah pertanyaan itu muncul, bagaimana ia berganti dari satu emosi ke emosi yang lain, di beberapa titik maju dan puluhan titik mundur, jatuh bangunnya aku sebagai manusia yang terus mencoba menyelesaikan proses pemisahan individuisasi. Setelah melihat ke belakang, aku bersyukur alam telah menjadi bidan yang mendorong kelahiran perjalanan spiritualku yang kedua, menjadi sesosok manusia yang bertemu dengan dirinya sendiri. Meski mungkin, bagiku ini berjalan lebih lambat dan kompleks. Aku mengambil kesimpulan di tempat paling rentan itulah hidup akan menguji berkali-kali, di tempat yang paling mudah merampas kewarasan, menenggelamkan dari segala arah, sulit untuk melihat cahaya pengetahuan di dalam kegelapan.  ...