Kepada siapakah, hati dan tanganku kupersembahkan?



Aku mendengar pertanyaan ini beberapa tahun lalu saat membaca sebuah buku tentang filosopi pendidikan. Pertanyaan yang terus bergema di kepalaku, pertanyaan yang sulit untuk dijawab meski dalam keadaan paling sadar sekalipun.

Aku terus mengamati diriku sendiri di tahun-tahun setelah pertanyaan itu muncul, bagaimana ia berganti dari satu emosi ke emosi yang lain, di beberapa titik maju dan puluhan titik mundur, jatuh bangunnya aku sebagai manusia yang terus mencoba menyelesaikan proses pemisahan individuisasi. Setelah melihat ke belakang, aku bersyukur alam telah menjadi bidan yang mendorong kelahiran perjalanan spiritualku yang kedua, menjadi sesosok manusia yang bertemu dengan dirinya sendiri. Meski mungkin, bagiku ini berjalan lebih lambat dan kompleks.

Aku mengambil kesimpulan di tempat paling rentan itulah hidup akan menguji berkali-kali, di tempat yang paling mudah merampas kewarasan, menenggelamkan dari segala arah, sulit untuk melihat cahaya pengetahuan di dalam kegelapan. Akan selalu ada waktu hasrat mencengkram, hingga rasanya sungguh, tidak mungkin akan ada perasaan yang lebih buruk lagi dari perasaan yang sekarang dialami, tapi, sama halnya seperti mendung yang tak akan pernah mampu menutupi seluruh langit, pada akhirnya terang itu tersingkap, sinar yang tak mungkin dihalau, kebenaran yang tak mungkin dibantah. Disaat gelap itulah aku berpegang erat pada Tuhan, pada DIA yang memegangi jiwaku, untuk tidak melepaskanku pada hasratku sendiri.

Hanya jika kita berserah, mengambil jarak dari diri, mengamati segala dinamikanya, meski awalnya samar tapi sisi kita yang dewasa akan selalu punya cara, apapun keputusan yang diambil baik gegabah atau penuh pertimbangan, yang dilakukan manusia hanyalah sebentuk upaya untuk bertahan. Berbelas kasihlah pada diri sendiri, Ia hanya mencoba untuk membantumu melewati semua, meski kadang kita membenci dan sulit memaafkan diri sendiri.

Setelah dapat menerima segala fenomena batin itulah mungkin aku baru bisa menjawab, kepada siapakah hati dan tanganku kupersembahkan? Setelah puluhan tahun menyembah egoku sendiri, sambil terus menerima keberlimpahan yang kerap diabaikan, aku kini ingin mencoba berkata, bahwa hati dan tangan ini, kupersembahkan untuk kebesaran Illahi. Terdengar terlalu klise? atau mungkin terlalu naif? menyatakan kehambaan dengan posisi diri yang seringkali jatuh bangun membutuhkan keberanian besar, begitu juga diriku.

Tapi jika melihat ke belakang, jalan panjang sunyi yang menempa diriku, aku ingin berkata bahwa aku melakukan semua ini karena sesuatu yang berdesir didadaku, sebuah suara asing yang mampu membelokkan arah kemudi dari jalan yang telah ditempuh keluargaku, untuk mencoba jalan yang lain, untuk belajar menerima yang bukan sekedar menerima, tapi juga mencari makna. Mungkin versi diriku yang kecil akan berkata 'gila' jika kukatakan aku telah menerima segala penderitaan dan ketidakberuntunganku dulu, aku bukan hanya tidak jadi pembenci lagi, tapi aku bisa melihat dengan belas kasih, lebih sering orang bertindak menyakiti sebagai salah satu upaya mempertahankan diri, itulah yang membuatku menerima orangtuaku apa adanya. 

Terimakasih dari lubuk hatiku terdalam, bahwa Engkau terus memegangi aku, pada akhirnya musim akan berganti, hidup akan berlalu, satu persatu makhluk hadir dan lenyap. Aku takut hidupku tidak bermakna tak bertujuan, aku ingin meninggalkan sesuatu yang baik, meski hanya sedikit. Izinkanlah aku bekerja untuk memuliakanMU, janganlah engkau menyerahkan urusanku ke tanganku sendiri, jangan biarkan aku tersesat dalam hasratku. Kelak jika mendung datang lagi, aku akan berteduh dalam naunganMU, hingga aku bisa melihat kembali kepada siapakah hati dan tanganku ini kupersembahkan.

Dan akhirnya aku tiba dititik kesadaran, bahwa menjadi diri sendiri pada dasarnya sederhana saja, selama ini aku bergelut dengan apa yang terus kurasa kurang, mencoba mematikan kerentananku dan menjebak diriku sendiri di penjara opini oranglain. Ketika aku kembali pulang pada diriku, tidak ada perubahan ekstrem yang megah, tak ada garansi tentang kesempurnaan atau jaminan penerimaan oranglain, sebuah perjalanan yang sangat panjang untuk membawa diriku pada kesimpulan, hidup memang tidak mungkin bernilai 100. 70 sudah cukup baik dan 30 sisanya bisa menjadi ladang pembelajaran untuk terus merasakan kerentanan, kesia-siaan, melepas, menerima dan mungkin akhirnya bisa mewujud dalam kebijaksanaan.

Mungkin saja begitu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prinsip Pembelajaran mendalam dari berbagai pemikir pendidikan

Berjangkar pada diri