Prinsip Pembelajaran mendalam dari berbagai pemikir pendidikan

 Prinsip Pembelajaran Anak Usia Dini


Dalam peran saya mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi guru tertentu, saya mempelajari modul Pembelajaran Mendalam dan Asesmen (Paud) 2.0 dari modul ini sebagai guru saya diharapkan salah satunya memiliki kompetensi untuk memahami perkembangan anak usia dini sebagai dasar pembelajaran serta dapat merancang pembelajaran dan asesmen yang bermakna, kontekstual dan berpihak pada anak.

Dalam modul ini, saya diperkenalkan pada tokoh Pendidikan yang memiliki pandangannya tentang prinsip pendidikan sebagai berikut;
x

1. Maria Montessori (1870-1952)

Maria Montessori hidup sekitar tahun 1870-1952, merupakan seorang dokter wanita dari Italia. Sebagai seorang psikiater yang membuat ia banyak terlibat dengan anak-anak berkebutuhan khusus membuatnya berkecimpung dalam permasalahan pendidikan anak yang kemudian berkembang pada metode pembelajaran dengan anak normal. Metode Montessori berdasarkan pada prinsip-prinsip pembelajaran anak yang secara mendasar berbeda dengan pembelajaran orang dewasa. Ia sangat tertarik dengan kapasitas anak dalam belajar yang sangat besar pada usia dini yang dia sebut sebagai “absorbent mind”. Maksudnya adalah anak memiliki kemampuan menyerap yang sangat kuat (absorbent) layaknya sponge menyerap air.

Gagasan Montessori menekankan pada pembelajaran yang bersifat konkrit/nyata, sehingga anak bisa langsung mencoba, namun dengan rekayasa lingkungan serta alat bahan yang sudah disiapkan oleh orang dewasa/guru.

Pendapat saya: Metode Montessori sangat baik dan dapat banyak membantu anak di area kognitif berbasis sains/math yang bisa dibuktikan secara konkrit, namun dalam proses pembelajaran anak usia dini mereka juga memerlukan ruang imajinasi, kelak ruang imaji akan mengantarkan anak dalam konteks mengenal Tuhan sebagai suatu entitas yang melampaui penalaran.

2. LEV SEMANOVICH VIGOTSKY (1896-1934)

Lev Vigotsky menggunakan teknik pijakan (scaffolding) untuk membantu anak dalam belajar, menggunakan pembelajaran kooperatif dan bentuk pembelajaran sosial lainnya. Vygotsky juga menekankan pada pentingnya aktivitas bermain sebagai sarana pendidikan anak, terutama yang berkaitan dengan pengembangan kapasitas berpikir, mendukung perkembangan bahasa dan sosial. Aktivitas bermain juga dapat menjadi akar bagi perkembangan perilaku moral. Hal itu terjadi ketika dihadapkan pada suatu situasi yang menuntut mereka untuk berempati serta memenuhi aturan dan perannya dalam kehidupan bermasyarakat. Interaksi yang dilakukan anak dengan lingkungan sekitarnya, baik itu orang dewasa maupun anak-anak yang lainnya dapat memberikan bekal yang cukup berharga bagi anak, karena dapat membantu mengembangkan kemampuan berbahasa, berkomunikasi serta bersosialisasi. Melalui interaksi tersebut anak akan belajar memahami perasaan orang, menghargai pendapat mereka, sehingga secara tidak langsung anak juga berlatih untuk mengekspresikan/menunjukkan emosinya.

Vygotsky meyakini bahwa proses belajar adalah proses dinamis dan interaktif, dialog antara Guru dan anak sangat penting untuk mengembangkan konsep dan pemikiran anak, dan hasil kolaborasi Guru dan anak dapat digunakan oleh anak untuk menyelesaikan masalah. Jadi dapat disimpulkan dalam prinsip pembelajaran dan asesmen berdasarkan teori Vygotsky ini Guru juga berperan sebagai teman bicara anak, dan asesmen dilakukan melalui dialog dengan anak untuk menggali lebih lanjut pemikiran anak.

Pendapat saya: Teori Vygostky mengingatkan kembali kebutuhan dasar anak dalam proses pendidikan yaitu komunikasi yang semakin hilang dalam praktik pendidikan di zaman ini, dimana proses mendidik hanya sebagai proses transfer informasi tanpa melibatkan proses relasi yang intens seperti bermain bersama. Dalam teori pendidikan anak usia dini, bermain tidak dapat dihilangkan karena anak mengambil peran dalam bermain untuk melihat gambaran dunia dalam perspektif mereka.

3. MOHAMMAD SJAFE’I (1893-1969) 

Mohammad Sjafei adalah tokoh Pendidikan Nasional yang dilahirkan di Matan (Kalimantan Barat) pada 31 Oktober 1893. Beliau menempuh pendidikan di sekolah Guru (Kweekschool) di Bukittinggi tamat tahun 1914 dan tahun 1922 melanjutkan pendidikan keterampilan di Negeri Belanda. Pada saat belajar di sekolah Guru, beliau berhubungan dengan para tokoh pergerakan seperti Dr. Setiabudi, Dr. Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara dan ayahandanya, Ibrahim yang bergelar Mara Sutan.

Sepulang dari pendidikan di Eropa beliau mendirikan sekolah Indonesich Nederlandsche School (INS) di Kayu Tanam Sumatera Barat tahun 1926, yang pendidikan dan pelajarannya didasarkan pada prinsip- prinsip aktif. Nama INS mengandung sebuah perlawanan karena sekolah pertama yang langsung menggunakan nama Indonesia di depan dan diikuti nama Nederlandsce. Beliau diposisikan sebagai tokoh pendidikan kerakyatan yang mengajarkan dan mentransformasikan nilai nilai luhur nasionalisme, pendidikan karakter, mandiri, ulet, aktif-kreatif, dan kritis. Pendidikan dan pengajaran harus dimulai dari masa anak-anak karena, “di masa manusia masih kecil” itulah mudah mengubahnya, perubahan akan sulit dilakukan setelah dewasa.

Prinsip pembelajaran menurut Sjafei memerlukan perhatian, khayal, tenaga mengingat, dan pengalaman, kebiasaan, serta pengertian konsep. Untuk itu diperlukan pembelajaran pekerjaan tangan (prakarya), “hands on” atau kegiatan pembelajaran yang memfungsikan seluruh indra anak sebagai sebagai alat untuk membantu pembelajaran lain. Pendidikan bagi Beliau tidak hanya sekedar proses untuk mengisi otak saja, tapi juga menuntun peserta didiknya untuk mengembangkan minat dan bakat sebagai bekal untuk kehidupannya kelak.

Pendapat saya:  Saya cukup terpukau dengan adanya tokoh pendidikan nasional lain selain KH. Dewantara, prinsip pembelajaran Sjafei juga cukup holistik, dalam proses pembelajaran dibutuhkan kefokusan, imaji, otak yang memiliki banyak proses menjalin pengalaman langsung (Tactile motorik) , pembelajaran yang juga melibatkan penanaman kebiasaan.


4. KI HADJAR DEWANTARA (1889-1959)

Nama Ki Hadjar Dewantara adalah Suwardi Suryaningrat, lahir pada tanggal 2 Mei 1889. Pada tahun 1922, sepulang dari pembuangannya di Belanda, Ki Hadjar mendirikan Taman Indrya (Dewantara, 1959). Pandangan Beliau yang paling terkenal adalah Ingarso Sung tulada, Ing Madya Mangun karsa, Tut Wuri Handayani. Pandangan ini menjadi panduan bagi guru atau pamong dalam memposisikan dirinya sebagai pendidik yang dapat memberi teladan, memberi semangat, memberdayakan dan memberikan dorongan kepada anak. Karena berbagai jasa Beliau terhadap pendidikan di Indonesia maka Ki Hadjar Dewantara dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Ki Hadjar memandang anak sebagai sosok dengan kodrat alam yang memiliki pembawaan masing-masing dan kemerdekaan untuk berbuat serta mengatur dirinya sendiri. Oleh karena itu anak memiliki hak untuk menentukan apa yang baik bagi dirinya, sehingga anak patut diberi kesempatan untuk berjalan sendiri, dan tidak terus menerus dicampuri atau dipaksa. Ki Hadjar juga berpandangan bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah lahir dan batin, serta dapat memerdekakan diri. Kemerdekaan itu hendaknya diterapkan pada cara berpikir anak yaitu agar anak tidak selalu diperintahkan atau dicekoki dengan buah pikiran orang lain saja tetapi mereka harus dibiasakan untuk mencari serta menemukan sendiri berbagai nilai pengetahuan dan keterampilan dengan menggunakan pikiran dan kemampuannya sendiri.

Pendapat saya: Saya sangat menghargai pandangan KH. Dewantara sebagai manusia dalam konteks pendidikan. Beliau menyadari bahwa adakalanya pendidikan hanyalah rekayasa pemerintah untuk membentuk masyarakat, namun begitu manusia adalah pribadi utuh yang memiliki buah pikirannya sendiri yang tidak dapat selalu dibentuk untuk mengikuti agenda diluar dirinya. Terimakasih Pak Dewan untuk pandanganmu yang menjadi fondasi pendidikan negara Indonesia, namun pertanyaan saya, kenapa arah pendidikan ini masih amat jauh dari awal mulanya?


Dari tokoh yang diperkenalkan sebagai tokoh pendidikan yang memberi pandangan tentang Pendidikan dan apa prinsip yang mendasarinya serta bagaimana menurunkannya menjadi teknis sehingga dapat melahirkan proses pembelajaran mendalam, saya ingin menambahkan tokoh pendidikan lain yang juga berperan dalam membentuk banyak metode;

1. Amanda Bennet 

Amanda Bennet praktisi dari Amerika  menyebutkan bahwa Unit Studies meniru model pembelajaran orang dewasa di dunia nyata, melihat kesatuan topik yang utuh tentang satu persoalan dalam potongan-potongan informasi yang tersebar di berbagai subjek, Guru yang bertanggungjawab dalam unit studies, berusaha untuk menyatukan koneksi, guru mencerna lebih dulu materi pelajaran, menentukan mana ide yang penting dan mana yang tidak penting, memilihkan kegiatan-kegiatan yang menurut guru tepat untuk memperkuat pilihan ide-ide dan menyiapkan segala rincian teknis pelaksanaan lainnya. Tujuan pembelajarannya membuat anak tertarik, senang atau terhibur.

Pendapat saya: Unit studies ini mengingatkan saya akan pembelajaran tematik yang mulai diperkenalkan oleh Kurikukulum Merdeka, dalam satu modul buku akan ada satu tema besar yang kemudian akan dikaitkan dengan berbagai jenis subjek pelajaran. Tematik ini mungkin masih dapat diaplikasikan di dunia TK, meski ada resiko juga bahwa Guru menjadi terlalu dominan, seolah berdiri di pusat dan melakukan dikte mental, jika Guru terlalu berpusat pada dirinya saat mengajar, maka kemungkinan adanya sabotase pembentukan relasi pribadi antara murid dengan pengetahuan. Saat guru terlalu mengambil peran di semua aspek rinci pembelajaran yang dirancang oleh orang dewasa, anak tidak mendapat ruang untuk berpikir, jika terus menerus terjadi hingga pendidikan tinggi maka intelektualitas anak lama-kelamaan akan menurun dan tumpul. Pendidikan selamanya adalah swa pendidikan, dibangun dari dalam diri anak, bukan dari luar, anakl sendirilah yang mesti bertanggungjawab mengolah materi pelajarannya.

2. John Holt (1923–1985)

Dunia pendidikan juga memiliki tokoh yang cukup revolusioner dalam pemikirannya, dia membuat sejarah dengan menggerakan unschooling yang dalam pengertian di buku The Unschooling handbook (1998) adalah anak belajar apa yang dia mau, ditempat yang dia mau, ketika dia mau dan dengan cara yang dia mau untuk alasan-alasan yang dia mau. Proses pembelajaran sepenuhnya di kendalikan oleh anak. Bantuan dari oranglain, termasuk orangtua, hanya diberikan jika dikehendaki oleh anak. Tidak ada kurikulum, rancangan pembelajaran, jadwal ataupun agenda. Unschooling dikelola oleh keluarga, dan tidak akan ada dua keluarga unschoolers yang menjalankan hal yang sama sebab prinsip Unschooling adalah masalah sikap dan pendekatan belajar, yang memasrahkan tanggung jawab belajar sepenuhnya kepada si pembelajar. John Holt percaya bahwa anak sangat berharga dan punya hak dasar setara orang dewasa, jika anak meminati pelajarannya, proses belajar akan menjadi bermakna dan efektif. Konsep peran orangtua dalam proses pendidikan yang mendukung penuh, bahwa orangtua tidak boleh ikut campur sama sekali dalam proses pembelajaran. Misal, ketika anak menyukai coding maka dia hanya akan belajar coding sampai akhir minatnya atau sampai anak merasa puas.

Pendapat saya: saya melihat mundurnya peran orangtua/guru dalam membimbing anak belajar. Anak tidak terpapar subject pendidikan lain, ia tidak akan menjadi pribadi yang berwawasan luas, kehilangan fokus untuk mempelajari berbagai ide dan gagasan lewat kurikulum yang bervariasi, padahal anak memiliki potensi yang amat luas bukan mengerucut hanya ke satu minat saja. Dengan variasi yang bisa menginspirasi dari berbagai subjek, pilihan jalan hidupnya akan lebih matang dan bijak.

3. Classical Education (Dengan berbagai versi; diantaranya versi Dorothi Sayers, Fritz Hinrich,  versi Harvey & Laurie Bluedorn)

Metode pembelajaran ini merupakan sebuah study yang terkait dan dipengaruhi oleh budaya Yunani dan Romawi. Metode ini bangkit kembali karena kesadaran bahwa pendidikan modern kalah jauh dengan model pendidikan masa lampau yang bisa menghasilkan pemikir-pemikir besar seperti Goerge Washington. Tahun 1947 sastrawan feminis Dorothy Sayers lewat ceramahnya yang berjudul "The lost tools of learning" di universitas Oxford, Dorothy mengkritik habis cara hidup dan budaya berpikir masyarakat modern yang merupakan hasil dari sistem pendidikan yang memprihatinkan. Menurutnya, generasi zaman sekarang telah kehilangan "perkakas-perkakas berpikir" warisan tradisi klasik, yakni bahasa dan logika. Tanpa dua keterampilan dasar itu anak-anak muda hanya menjadi pelahap ide yang tidak kritis, hanyut terbawa arus propaganda, iklan dan indoktrinasi dari penguasa dan pengusaha. Ciri  pendidikan klasikal menurut dorothy adalah membagi metode pembelajaran yang disesuaikan dengan usia perkembangan anak atau Trivium, yaitu usia burung beo TK-kelas 4 (mempelajari bahasa),kedua fase dialektika Kelas 5-8 (menggunakan bahasa) dan terakhir retorika Kelas 9-12 (mengungkapkan dirinya dalam bahasa). Jika trivium telah dikuasai maka mereka melanjutkan pelajaran ke Quadrivium (aritmatika, musik, geometri dan astronomi, daftar subjek yang tidak jauh berbeda dengan sekolah pada umumnya) Yang menarik, pendidikan klasik itu sendiri (masa filsuf Romawi dan Yunani) tidak membagi fase perkembangan kesamaannya hanyalah  harapan agar terpelajar, seseorang harus mampu membaca tulisan-tulisan para pemikir klasik dalam bahasa-bahasa klasik. 

Pendapat saya: Saya merasa pembagian tahap perkembangan anak yang disesuaikan dengan kemampuan menyerap pengetahuannya tidaklah  tepat. Pertama karena saya meyakini bahwa anak adalah pribadi utuh dengan potensi intelektual dan moral setara orang dewasa,  anak-anak sebaiknya dikenalkan dengan berbagai subjek sejak tahun-tahun pertama sekolah, kemampuan pada fase-fase yang disebutkan diatas hadir bersamaan pada setiap periode kehidupan anak. Namun karena zaman Yunani dan Romawi telah lampau, visi akhir pendidikan mereka diserahkan kepada filsafat saat  merumuskan dan mewujdukan kriteria manusia ideal. Karena itu terasa kontradiktif, saat hasil pendidikan modern semakin memprihatinkan, mereka juga enggan menyerahkan pikiran yang bersentuhan kepada filsafat yang cenderung sekuler yang di claim jauh dari agama. Sungguh sebuah paradoks yang sulit dipecahkan.

4. Waldorf Steiner

Prinsip pembelajaran Waldorf (lahir di Austria) ditemukan pada tahun 1919 di Jerman, yang menerapkan model pembelajaran yang ramah anak dan sangat artistik.  Seni, musik dan gerak menjadi bagian itegral dari proses belajar. Waldrop memandang anak sebagai manusia yang memiliki potensi luar biasa, beranggapan bahwa pendidikan itu harus mengurus segenap aspek kepribadian anak secara utuh, bukan hanya berfokus pada intelektualnya saja. Waldorf mendefinisikan tiga kekuatan fundamental yang mendorong anak melakukan kegiatan jasmani, emosional dan mental, yaitu pikiran, perasaan dan kehendak. Semboyan pendidikan Waldorf adalah, kepala (Usia 14-21) , hati (7-14) dan tangan (Usia 0-7).  Waldorf menggunakan kurikulum yang kaya, menunda pelajaran formal apapun saat diusia dini, muatan akademis baru diberikan di usia tujuh tahun. Tidak ada kompetisi dan menekankan peran penting orangtua, sangat berorientasi pada pendidikan karakter.

Pendapat Saya: Metode waldorf saat ini sudah banyak menyebar di Indonesia, berbasis di Bali dan di Bandung dan merupakan sekolah untuk klalangan menengah ke atas (setidaknya, para peminatnya), namun sekolah ini bersifat tertutup tentang cara mengelola sekolah (tapi mereka terbuka pada yang datang langsung), meski banyak hal yang sesuai dengan prinsip-prinsip hukum alam dll. Waldorf masih membagi fase penyerapan usia anak dengan pengetahuan, menurut literatur, pembagian itu didasari dari hasil keyakinan spiritual Antroposofi Steiner, keyakinan ini tidak dibicarakan secara terbuka sehingga sulit diadaptasi sebagai metode pendidikan tanpa menyelami lebih dalam mengenai Antroposofi. Pada kenyataannya, aplikasi metode ini menjadi sulit untuk dikerjakan siapa saja, karena tidak bisa menghadirkan atmosfir/aura ruang kelas waldorf.

5. Charlotte Mason (1842 hingga 1923)

Charlotte Mason adalah seorang pemikir dan pendidik yang hidup di Inggris akhir abad ke-19. CM, biasa disingkat demikian memiliki pandangan pendidikan yang luar biasa pada masa itu, Ia melihat anak sebagai pribadi utuh sejak lahir, ia melahirkan 6 volume buku mengenai pendidikan dan ratusan artikel yang masih banyak dipelajari hingga kini. Rasa hormatnya pada kepribadian anak menjadi sudut pandang awal bagaimana metode pendidikannya berjalan. Motto pendidikan CM adalah; atmosfir, disiplin dan kehidupan. Pendidikan harus mempertimbangkan atmosfir/lingkungan yang akan menginspirasi dan membentuk cara pandang anak terhadap dunia, anak dibiarkan belajar secara bebas, belajar dari dunia nyata, bukan dalam lingkungan buatan.  Pendidikan juga melibatkan kedisiplinan, melatihkan kebiasaan baik secara terencana, teratur dan bertujuan, (termasuk kebiasaan mental dan fisik). Pendidikan melibatkan unsur kehidupan secara penuh; pendidikan harus mengurusi baik tubuh, jiwa maupun ruh anak. Akalbudi butuh nutrisi berupa ide-ide, karena itu anak berhak untuk kurikulum yang kaya (living book, sebagian besar menggunakan buku klasik). Metode ini mengerahkan fokus secara penuh pada pembentukan karakter yang bertujuan dengan visi pendidikan tertinggi; yaitu pendidikan yang bisa melahirkan manusia sedekat mungkin dengan Citra Illahiah. Menggunakan dua pembimbing pertumbuhan moral dan intelektual yaitu hukum kehendak dan hukum nalar. CM juga tidak memisahkan ranah intelektual dan spiritual dalam kehidupan ia mengajarkan bahwa semua kebenaran milik Tuhan, bahwa kajian sekuler sama baiknya dengan kajian relijius, apapun yang anak pelajari atau kerjakan, kata CM, Tuhan selalu hadir bersama mereka.

Pendapat saya: Menurut saya, metode CM ini seperti pendidikan klasik yang menyerahkan Visi pendidikannya kepada agama alih-alih filsafat dan yang terpenting tidak mengkotak-kotakkan fase penyerapan pendidikan sesuai usia. Saat ini metode ini sudah banyak di adopsi oleh para keluarga pesekolah rumah di Indonesia. Meski basis agama CM adalah kristen, namun dalam praktiknya, metode ini dapat diadopsi oleh penganut agama apapun, karena CM bertumpu pada hukum alam/fisiologis/psikologis yang bersifat universal yang berlaku untuk seluruh manusia. Saya mendalami metode ini dan menemukan banyak harta karun pemikiran CM yang memungkinkan manusia untuk bertumbuh secara holistik.



Kesimpulan:

Saya melihat upaya negara untuk terus meletakkan prinsip pendidikan dan metode pembelajaran yang mendalam dan berdampak, hanya saja begitu banyak tantangan, terutama belum banyak guru yang mendalami filosopi pendidikan dan mendalami berbagai pemikiran para filsup pendidikan yang akhirnya berdampak pada  teknis pengajaran di sekolah. 

Akan sangat jauh berbeda, jika guru mengenali sudut pandang para peletak batu pertama pendidikan, mengolah pemikiran dari filosop-filosop pendidikan sebagai kerja spiritual pribadi, mungkin saat ini Negara tidak kekurangan Guru (Jurusan keguruan dianggap fakultas yang lebih mudah untuk dipelajari, melahirkan banyak sarjana pendidikan) namun berapa gurukah yang mengabdikan hidupnya untuk memenuhi panggilan hidup, mengambil peran sebagai fasilitator tumbuhnya jiwa dan raga anak lalu memperkenalkan mereka akan pengetahuan dan cara menjalani kehidupan yang holistik dengan kematangan kedewasaan.

Negara pada umumnya saat ini masih menerapkan metode pembelajaran campuran, mengambil sedikit prinsip disini, lalu mengambil sedikit prinsip disana, pada praktiknya diakar rumput lebih variatif lagi tapi yang menjadi ciri khas, hanya meneruskan model pembelajaran yang mereka dapatkan dari warisan guru-guru terlebih dahulu, sekalipun negara memberikan bimbingan teknis terbaru, antara sulit menerapkannya atau terjebak dengan kebiasaan lama yang enggan diubah. 

Sungguh kita berpacu dengan waktu untuk bisa menemukan satu metode pendidikan yang utuh untuk semua. Kini banyak para praktisi pendidikan berlomba mencari metode terbaru dan 'melabelinya' sebagai ciri khas lembaga untuk memberi harapan tentang hasil pendidikan yang lebih baik, para orangtua dan keluarga-keluargapun kini mulai turun tangan untuk menentukkan metode pendidikan yang mereka anggap paling sesuai dengan keluarga masing-masing.

Pertanyaannya kini, Negara ingin mengambil bagian yang mana? dan jika kamu sebagai Guru membaca tulisan ini, mungkin kamu bisa berbagi perspektifmu tentang prinsip dan metode pendidikan yang tidak hanya itu-itu saja, ternyata ada banyak sekali bukan? yang mana yang paling memantikmu?



Komentar

  1. membaca isi blog ini menambah wawasan saya perihal tokoh hebat yang berperan pada dunia pendidikan, saya terpantik dengan MOHAMMAD SJAFE’I dan memberikan saya insight untuk mencari informasi lebih lanjut, karena saya juga meyakini setiap anak perlu mendapatkan pendidikan holistik. Saya juga tertarik dengan Charlotte Mason bahwa setiap anak berhak bertumbuh dan mendapatkan pendidikan holistik.

    BalasHapus
  2. Tulisan ini sangat menarik perhatian saya, dengan bagaimana Anda mengaitkan teori-teori seperti Maria Montessori, Lev Vygotsky, dan Ki Hadjar Dewantara ke dalam konteks pengembangan anak usia dini terutama pada aspek pengalaman langsung, interaksi sosial dan kebebasan belajar. Tulisan ini menginspirasi saya untuk lebih memperhatikan bagaimana “membiarkan anak menemukan sendiri” bisa berjalan secara bermakna.

    BalasHapus
  3. Tulisan ini mengingatkan saya pada pelajaran saat kuliah di semester 1. Dan memang saya pun mengagumi tokoh-tokoh pendidikan ini. Namun yang paling berkesan adalah tokoh KH. Dewantara. Yang mendapatkan julukan sebagai Bapak pendidikan. Saya pun merasa lebih mengenalnya karena namanya tidak asing. Terimakasih untuk tulisannya yang memberikan informasi tentang tokoh-tokoh pendidikan yang begitu mengagumkan.

    BalasHapus
  4. Blog ini membuat saya sebagai pembaca mengetahui lebih banyak lagi tokoh yang bersejarah dalam perkembangan dunia pendidikan. Sangat terpantik saat membaca prinsip pendidikan menurut John Holt, apakah dengan memberikan alih kepada anak secara penuh tanpa bantuan orang dewasa kecuali dengan izin dari anak, akankah prinsip ini membuat pembelajarannya lebih terarah? selain itu, Apakah prinsip-prinsip yang telah dicantumkan pada blog dapat dijalankan secara bersama (misal menggunakan 2-3 prinsip yang berbeda) atau harus fokus dengan satu prinsip saja dalam proses pendidikan anak usia dini?

    BalasHapus
  5. Tulisan tersebut sudah menggambarkan pemikiran dasar Maria Montessori dengan baik, terutama tentang pandangannya terhadap cara anak belajar yang berbeda dari orang dewasa. Montessori percaya bahwa masa kanak-kanak adalah periode penting dalam pembentukan kepribadian dan kecerdasan manusia. Konsep absorbent mind menunjukkan betapa besar kemampuan anak untuk menyerap pengetahuan dari lingkungan sekitarnya melalui pengalaman langsung. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya lingkungan belajar yang terstruktur dan disiapkan dengan baik oleh orang dewasa agar anak dapat belajar secara mandiri dan alami.

    BalasHapus
  6. pengetahuan ini sangat menarik perhatian saya sebagai pembaca, ternyata sejarah dalam tokoh pendidikan itu banyak tidak hanya satu tokoh saja, saat saya membaca banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapatkan dan mungkin sekali ini menjadikan bekal pengetahuan saya di masa depan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepada siapakah, hati dan tanganku kupersembahkan?

Berjangkar pada diri