Berjangkar pada diri
Aku pernah mendengar seseorang berkata padaku tentang situasi dimana dia sudah putus asa untuk "curhat" dengan pasangannya dan mulai mempertimbangkan untuk mulai mencari tempat lain atau bersandar pada dirinya sendiri -- karena terlalu sering kecewa.
Aku merenungi lama kalimat itu.
Kita sering "terlanjur" tumbuh tanpa pernah mengenali diri sendiri. Saat mematut diri di cermin, kita melihat seseorang yang kita tahu, sekaligus terasa asing.
Di cermin itulah kita seringkali menilai apakah penampilan ini akan di sukai oranglain? di hormati oranglain? mengundang rasa hormat? aman dari kritik dan segala penilaian lainnya?
Mungkin kita terlalu asing untuk merasa nyaman dengan diri sendiri. Terlalu terlatih untuk mendengarkan pendapat oranglain, terlalu otomatis untuk di dikte oleh selain diri kita sendiri.
Barangkali, di sepanjang perjalanan hidup, kita terlalu sering mendengar "Kamu sudah besar", "jadilah dewasa" dan banyak sekali hal yang harus kita penuhi untuk memenuhi kriteria orang besar dengan pengalaman minim, sesederhana diajari berani menerima rasa sakit alih-alih menyalahkan lantai, pintu atau binatang.
Kita terasing dari diri sendiri, dirasuki perasaan tak nyaman, letih, kadang dengan kebencian memuncak, seperti putaran kaset rusak ingin segera terhenti, maka penderitaan besar dari ketidaktahanan menjadi diri sendiri sering mendorong seseorang melakukan hal yang paling tragis; kematian.
Sepanjang perjalanan hidup, barangkali kita tidak pernah benar-benar merdeka, sayangnya, yang kita tahu caranya memang seperti itu.
Tapi aku ingin mengatakan pada kalian, yang entah diminta atau tak sengaja terdampar di tulisanku yang sederhana ini; hidup dengan merdeka itu sangat mungkin.
Karena kita sama-sama manusia dan aku tidak istimewa, akupun mengalami pencarian itu, jatuh bangun untuk mencari definisi bahagia, sampai aku melepaskan diri dari segala penilaian oranglain, aku sering menelisik ke dalam diriku "Oh barangkali aku bisa mengatakan itu dari tempatku berada sekarang, yang mungkin jauh berbeda dari tempat aku memulai dulu."
Justru, seandainya aku bisa menyadarinya lebih cepat, aku ingin melakukannya lebih cepat lagi, memeluk diriku, merangkul segala yang ada pada dirinya, kekurangannya, keberadaannya, keburukannya, apapun yang telah dilakukan oleh diriku, aku ingin berkata, pintu hatiku selalu terbuka untuknya. Hingga aku bisa lebih cepat lagi belajar mengasihi diriku, lebih tahu cara mencintainya, bisa membela diriku sendiri saat ada orang yang meragukan diriku.
Sehingga mungkin, masa menjadi diriku yang otentik itu datang; aku tidak terganggu lagi saat oranglain berkomentar; aku terlalu hitam, terlalu gemuk, terlalu norak, terlalu kusut, tidak cantik, ketinggalan zaman.
Aku tidak keberatan menjadi diriku di kehidupan ini dengan gambaran itu semua. Bukan berarti aku memekakan telinga dari masukan oranglain (yang sayangnya, ingin memberi masukan atau berharap aku berubah dengan memilih strategi atau kata-kata yang tragis. Yang melukai, yang justru makin meruncingkan jarak). Kiranya aku akan melakukan semua perubahan, karena dorongan dari dalam diriku, menemukan alasan untuk diriku sendiri, bukan untuk memenuhi ekspektasi oranglain atau hanya agar mendapat nilai/validasi oranglain.
Aku ingin kelak, orang disekitarku merasa nyaman dengan dirinya, berjangkar pada dirinya sendiri, melepaskan keinginan untuk bergantung pada orang lain, lalu kecewa, lalu mencari lagi. Bukan berarti melawan hukum alam sebagai makhluk sosial dengan tidak lagi membutuhkan oranglain, tapi dengan bertemu diri sendiri, hubungan dengan oranglain tidak lagi dipenuhi strategi-strategi tragis, barangkali, dunia bisa berjalan lebih tenang, tidak saling menyakiti lewat perkataan dan perbuatan hanya karena kita ingin memenuhi kebutuhan kita sebagai manusia.
Aku dan aku yakin kalian semua, sudah mengupayakan yang terbaik dari sudut pandang kalian sendiri saat ini, cara kita bersikap dan mengambil keputusan, sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan pengetahuan. Karena itu, berbelas kasihlah pada diri sendiri, yang kita lakukan hanyalah cara yang kita tahu dan pilih untuk bertahan hidup. Tapi, selalu ada cara untuk merubahnya, jika kalian terpanggil untuk memiliki sudut pandang baru, belajarlah, banyak buku-buku yang bisa dipelajari, banyak kelas-kelas untuk meningkatkan pemberdayaan diri, melangkahlah keluar, ada dunia baru diluar sana, yang akan ramah menyambutmu dengan keapa-adaan dirimu.
Dan masih saja mungkin terjadi, saat kamu sudah genap menerima diri, akan selalu ada seseorang yang menyerang apa yang mereka anggap kurang; kurang putih, kurang langsing, kurang modern, terimalah, pahamilah, karena mereka tidak bisa lagi menyerang pemikiran dan tindakanmu, maka mereka akan menyerang hal lainnya.
Maklumilah, mungkin mereka juga masih dalam proses menerima diri sendiri, karena mereka juga tidak istimewa, kita hanyalan sama-sama manusia.
Kuharap, kita bisa mencintai diri dan menjalani hidup ini dengan kebajikan.

Komentar
Posting Komentar